LingkarBuku: Logo

Saya sempatkan membuat logo komunitas LingkarBuku.

[Update]

Karena logo ‘blur’, maka saya revisi prosesnya. Didesain menggunakan Flash CS3, kemudian di-ekspor as image dengan setting area minimal, menjadi file PNG dengan resolusi lebih tinggi, 2 kali lipat sebelumnya. Ditambahkan teks menggunakan layanan desain logo online Canva.

Tanpa melalui proses pemotongan backgroud menggunakan PhotoScissors, karena proses inilah yang membuat tepian logo menjadi blur.

[Sebelumnya]

Didesain menggunakan Flash CS3, kemudian di-ekspor as image dengan setting area minimal. Dibersihkan backgroundnya yang tidak diperlukan menggunakan PhotoScissors. Ditambahkan teks menggunakan layanan desain logo online Canva.

Konsepnya sederhana:

  • memuat huruf /l/ dan /b/, dari kata /lingkar/ dan /buku/;
  • terdapat bentuk geometris /lingkaran/ untuk menegaskan kata /lingkar/ dan menunjukkan makna /komunitas/;
  • terdiri dari 3 warna yang ‘bersebelahan’
  • tulisan /Lingkar Buku Bondowoso/ dan /Bondowoso Book Circle/ in English.
Logo LingkarBuku revisi
Logo LingkarBuku versi pertama

Saya juga mendesain logo /LingkarBuku/ Indonesia yang bersifat ‘nasional’, tanpa tertulis nama daerah.

Logo LingkarBuku Indonesia (Nasional)

Tolong diberi komentar ya. Kritik tapi membangun.

LingkarBuku: Who and How

Jadi, gini.

Pertama, para pegiat literasi, pengelola rumah baca (perpustakaan), berkumpul dulu untuk menyamakan persepsi. Oya, terutama Pengelola #RumahBaca di Bondowoso ya. Sementara ini, sudah ada 3 Pengelola #RumahBaca yang menyatakan berminat. Dan, serius. Untuk tahap awal, kita batasi 5 #RumahBaca saja. Jadi, buruan kalau kamu berminat dan serius.

Kedua, kita rumuskan kesepakatan bersama dalam suatu nota kesepahaman (memorandum of understanding). Gimana aturan mainnya. Siapa menjadi apa. Apa hak dan kewajiban masing-masing yang terlibat. Dan lain-lain.

Gambaran besarnya, kira-kira begini:

Pengelola kegiatan #BookCircle, untuk sementara kita sebut sebagai #BondowosoBookCircle, mengurus kesepakatan dengan pihak lain. Hingga saat ini, baru KampoengBatja Jember (aka Kung Iman Suligi) yang menyatakan kesediaannya mendukung penuh kegiatan #BookCircle. Ke depan, semoga ada pihak-pihak lain yang terketuk hatinya untuk berbagi pustaka atau donasi untuk dikelola. Demi menumbuh-kembangkan budaya baca-tulis di Bondowoso.

Pengelola #BondowosoBookCircle membawa sejumlah pustaka dari #KampoengBatja Jember ke Bondowoso. Pengertian pustaka bisa berupa buku, majalah, atau lainnya. Diasumsikan mendapat pinjaman 50 pustaka. Sekedar untuk memudahkan ilustrasi. Seiring dengan perjalanan waktu dan meningkatnya kepercayaan, maka jumlah pustaka yang dipinjamkan akan ditambah.

Pada hari yang telah disepakati, kelima Pengelola #RumahBaca berkumpul. Jangan lupa membawa 5 koleksi pustaka untuk dipinjamkan pada #RumahBaca lainnya. Ini jika disepakati oleh Pengelola #RumahBaca pada saat pertemuan untuk menyamakan persepsi dan menyusun nota kesepahaman (memorandum of understanding).

Pengelola #BondowosoBookCircle meminjamkan pada Pengelola #RumahBaca masing-masing 10 pustaka. Pengelola #RumahBaca meminjamkan pada Pengelola #RumahBaca lainnya sejumlah 5 pustaka. Dengan demikian, masing-masing Pengelola #RumahBaca mendapat pinjaman 15 pustaka.

Kemudian, pada waktu yang telah ditentukan, secara periodik, misalkan 1 atau 2 minggu sekali, Pengelola #RumahBaca berkumpul lagi untuk saling bertukar pustaka yang dipinjamkan. Secara bergiliran, #RumahBaca A meminjamkan pada #RumahBaca B. #RumahBaca B meminjamkan pada #RumahBaca C. Dan begitu seterusnya.

Sehingga pada akhir suatu periode, masing-masing #RumahBaca mendapat pinjaman 50 pustaka dari Pengelola #BondowosoBookCircle dan 20 pustaka dari Pengelola #RumahBaca lainnya. Seluruhnya, 70 pustaka. Tanpa melalui pengadaan pustaka. Keren kan.

Bagaimana teknis pendistribusian, apakah diambil atau diantar. Berapa besaran kontribusi masing-masing #RumahBaca. Dan ketentuan lain-lainnya. Kita diskusikan bersama pada pertemuan ‘pertama’. Kapan? Dimana?

Silakan japri ya.

LingkarBuku: What and Why

Dikirim oleh Edy Jo pada Rabu, 16 Oktober 2019

Salah satu kendala terberat bagi pengelola suatu rumah baca (perpustakaan) adalah pengadaan koleksi pustaka baru. Tanpa pengadaan pustaka baru, maka pelanggan atau pembaca atau pengunjung rumah baca (perpustakaan) tentu tidak akan datang lagi. Kecuali rumah baca (perpustakaan) memiliki agenda kegiatan lain yang menarik.

Salah seorang pengelola rumah baca (perpustakaan) di Jember menambah koleksi pustaka dengan mengandalkan dana pribadi (mandiri). Beberapa pengelola rumah baca (perpustakaan) yang lain menerima donasi, berupa dana cash atau pustaka, dari Donatur atau Sponsor.

Namun persoalannya bukan semata-mata pada ketersediaan dana untuk pengadaan pustaka baru. Karena kalaupun pengelola rumah baca (perpustakaan) memiliki dana segar untuk mengadakan pustaka baru pada suatu saat nanti, dalam rentang waktu lama, pustaka baru itu akan menjadi koleksi lama yang tidak menarik lagi bagi pengunjung.

Untuk itu diperlukan suatu solusi cerdas, seperti yang pernah saya lakukan ketika saya mengelola rumah baca (perpustakaan) di Tamanan, Bondowoso yaitu dengan saling bertukar koleksi dengan rumah baca (perpustakaan) lain, salah satunya dengan rumah baca (perpustakaan) di Glenmore, Banyuwangi.

Dalam hal ini Kampoeng Batja memiliki koleksi yang relatif berlimpah dan berkenan untuk berbagi dengan meminjamkan kepada rumah baca (perpustakaan) lain. Untuk meringankan biaya pengiriman pustaka (buku) dari Jember ke Bondowoso dan sebaliknya maka kita perlu menggandeng beberapa rumah baca (perpustakaan) lain di Bondowoso. Misalnya perpustakaan Gus Taufiq di Desa Sulek, Tlogosari.

Gimana detilnya? Tunggu ya.