Bukber Anak Yatim

Di sela kegiatan penggalangan donasi Peduli Dhuafa Difabel, kami menerima donasi dari sejumlah donatur yang menitipkan amanah khusus untuk disampaikan pada anak yatim-piatu. Seluruhnya, berjumlah Rp1.250.000.

Karena diperuntukkan secara khusus untuk anak yatim-piatu, maka kami tidak mengalokasikan donasi tersebut untuk program kegiatan Peduli Dhuafa Difabel. Untuk itu, kami mengagendakan kegiatan terpisah Bukber –Berbuka Puasa Bersama– Anak Yatim.

Dengan asumsi, harga menu buka puasa Rp12.500/paket, maka donasi dari donatur akan memberi manfaat pada 100 anak yatim.

Kemudian, kami hunting yayasan di sekitaran kota Bondowoso, terutama yang menyantuni kisaran 100 anak yatim-piatu dan mereka stay on location. Salah satu referensi yang kami terima Yayasan Yatim dan Pondok Tahfidz Al Fitrah binaan Ustadz Yusuf. Lokasinya di seberang SPBU Bataan, kanan jalan sebelum jembatan dari arah Bondowoso.

Kami juga menjajaki kemitraan dengan Ayam Geprek MasKades, Tenggarang sebagai penyedia menu berbuka. Kebetulan owner-nya adalah alumni SMK Negeri 1 Bondowoso, murid dari istri Mas Edy Jo dan aktivis di kegiatan PMR (Palang Merah Remaja) binaan Mas Hermul.

Setelah kontak via telepon dengan pengasuh dan survei ke lokasi, kami mendapat informasi jumlah anak yatim-piatu binaan adalah 105 anak. Artinya donasi yang tersedia belum mencukupi. Tepatnya, kurang 5 paket lagi.

Kegiatan Bukber Anak Yatim dijadwalkan akan dilaksanakan mulai dari menjelang hingga saat berbuka Senin, 18 Mei 2020. Bagi teman-teman yang berkenan hadir, mohon untuk mengirim pesan pribadi pada kami.

Kami juga membuka kesempatan bagi teman-teman yang berkenan berbagi, yang akan dialokasikan untuk: (1) menggenapi kekurangan 5 paket, (2) meningkatkan menu berbuka, atau (3) untuk memberikan uang saku bagi adik-adik yatim-piatu.

Monggo, senyampang kita diberi kesempatan di sepertiga akhir bulan Ramadhan.

Akhir kata, kami mewakili adik-adik yatim-piatu penerima manfaat mengucapkan terima kasih yang mendalam. Semoga amal ibadah teman-teman dan donatur sekalian diterima oleh Allah SWT dan mendapat balasan yang lebih baik. Aamiin.

Wassalam,
Heru Mulyadi – founder Rumah Kita (https://rumahkita.or.id)
Edy Wihardjo, founder SekolahGratis (https://fb.me/SekolahGratis2)

Back to Basic

Seminggu yang lalu atau lebih, saya menerima kiriman foto dari istri, foto kafe di Karangmelok, Tamanan. Kebetulan rumah mertua istri di tetangga desa Karangmelok. Iya, maksudnya kediaman orangtua saya.

Untungnya, foto yang dikirim merupakan hasil screenshot dari posting di Instagram. Untungnya lagi, nama akun yang memposting foto jelas terbaca, @karangmelok_village. Sayapun mengirim direct message ke pengelola akun.

Singkat kata, saya terhubung dengan pengelola akun. Ternyata, mereka adalah mahasiswa saya di Universitas Jember yang sedang melaksanakan kegiatan kuliah kerja nyata alias KKN di Desa Karangmelok.

Info singkat yang saya peroleh, lokasi di Dusun Krajan, tepat di seberang Masjid. Kafe baru saja di launching pada 15 Februari 2020.

Pantas saja, ketika tiga semester yang lalu, saya membimbing mahasiswa KKN di Kecamatan Tamanan, dan mengadakan kegiatan Persuli (Pertemuan Seminggu Sekali) di Balai Desa Karangmelok, mahasiswa tidak menceritakan tentang keberadaan KAVE.
Mereka hanya melaporkan salah satu usaha Bumdes di bidang produksi air minum kemasan dan tepung beras organik.

Karena penasaran, saya hunting informasi terkait siapa pengelolanya ke Grup WhatsApp Alumni SMP Tamanan dan langsung japri ke teman-teman sekolah (SMP) yang tinggal di Karangmelok.

Beberapa informasi yang saya peroleh, sebagai berikut. Namanya KAVE, singkatan dari Karangmelok Village Education. Pengelolanya Bumdes, Badan Usaha Milik Desa. Sedangkan pengelola operasional hariannya ada Ervin Andriani. Namanya gak asing, karena dia adalah adik kelas ketika SMP. Kakaknya, Indrawati, adalah teman kuliah satu fakultas di FKIP, Universitas Jember. Beda program studi. Saya Prodi Pendidikan Matematika, Iin -panggilannya- Prodi Pendidikan Luar Sekolah (PLS).

Sebenarnya, kami masih bersaudara, karena leluhur kami, sama.

Setelah mendapat nomor handphonenya, sayapun say hello. Saya mengirim link profil Facebook https://fb.me/EdyJo. Alhamdulillah, Ervin masih ingat, sama saudaranya.

Sebagai pengelola, Ervin sangat welcome. Untuk berbagi informasi global, dia mengirim foto berikut:

Dan video berikut:

Video Profil KAVE

Terus terang, kami jarang bertemu, karena saya tinggal di sekitar Kampus Unej, Jember dan jarang mudik. Kecuali untuk silaturahim pada Ibu.

Kebetulan, besok Minggu pagi saya diundang untuk menghadiri acara Sholawatan bareng teman-teman Alumni SMP di Tamanan. Saya menawarkan diri untuk membantu memviralkan dengan menampilkan profil KAVE di Blog Bondowoso Rumah Kita https://RumahKita.Or.Id

Setelah mendapat persetujuan, saya kontak Tim Rumah Kita. InsyaAllah kami akan melakukan liputan besok siang.

Unjuk Aksi Ekskul

Spasa Performance

Minggu, 1 Desember 2019 pukul 7.30 pagi, saya bersama keluarga around-around di LA, maksudnya ter-muter di Lon-Alon Bondowoso. Suasana relatif rame, karena sedang berlangsung kegiatan masyarakat untuk mengisi Car Free Day (CFD).

Kegiatan masyarakat beragam, mulai dari berolahraga –dengan berjalan kaki atau jogging, sekedar mengeluarkan keringat, dilanjutkan dengan sarapan pagi, baik makanan ringan maupun makanan berat.

Ketika mencapai sisi utara LA, tepatnya di depan SMP Negeri 1 Bondowoso, kami disuguhi performance adik-adik siswa yang mengikuti kegiatan ekstra kurikuler atau lebih dikenal ekskul, baik ekskul seni maupun olahraga.

Informasi dari komite sekolah yang kami temui, kegiatan ini telah rutin diadakan setiap Minggu pagi oleh Ekskul-ekskul Spasa (SMP Negeri 1 Bondowoso). Disamping sebagai ajang latihan, juga sekaligus unjuk aksi dan kreasi pada masyarakat, terutama yang menghadiri CFD.

Ke depan, pihak terkait yaitu Dinas Pendidikan perlu melibatkan diri untuk mengelola even tersebut dengan mengundang ekskul sekolah lainnya, mengingat jalanan di seputar alun-alun Bondowoso adalah milik bersama.

Explore Bondowoso

the Stonehenge van Java

Jangan salfok, salah fokus. Perhatikan gambar latarnya ya. Bukan tampilan foto figurannya. Itu adalah batu (betoh dalam bahasa Madura) raksasa yang membentuk formasi tertentu. Seperti Stonehenge di Inggris (https://id.wikipedia.org/wiki/Stonehenge). Untuk melihat itu, kita gak perlu jauh-jauh ke Inggris. Silakan Anda datang ke Solor, Cermee, Bondowoso.

Setelah itu, Anda bisa melanjutkan ke Bukit Teletubbies.

Guest House Jampit. Berikut salah satu liputan keren: https://travelingyuk.com/guest-house-jampit/41774/.

Finalisasi Proposal Bond2019

Seminggu yang lalu, tepatnya Sabtu (5/10) malam di Maesan, kami (SekolahGratis, Rumah Kita, PakarTI, RTIK Bondowoso, dan RMB) membahas gagasan lomba menulis di blog, sebagaimana dilaporkan di artikel berikut:

Berdasarkan masukan dari teman-teman (Rumah Kita, RTIK Bondowoso, dan RMB), kemudian SekolahGratis (sebagai penggagas) dan PakarTI (sebagai IT Partner) melakukan penyusunan dan finalisasi proposal kegiatan. Alhamdulillah, proposal sudah rampung, Jumat (11/10) dicetak di Bursa Mahasiswa, untuk kemudian diserahkan pada tim Rumah Kita selaku Event Organizer.

Sedikit catatan, event yang semula dirancang untuk para milenial, diperluas cakupannya untuk guru, ustadz, dan dosen para milenial. Demikian juga untuk kategori peserta umum tidak lagi dibatasi usianya berdasarkan kriteria atau definisi milenial.

Untuk itu, event yang semula diberi nama Festival Milenial disesuaikan dengan jenis lomba, yaitu menulis di blog, menjadi Blogs on Nice Destination. Disingkat Bond. Bond sendiri mengacu pada nama kota Bondowoso.

Blogs (verb, kata kerja) berarti menulis atau mengupdate konten di blog (noun, kata benda). Orangnya yang menulis disebut Blogger. Nice Destination mengacu pada tema utama lomba menulis yaitu mengenai potensi wisata di Bondowoso.

Oya, satu lagi, peserta yang semula hanya perorangan, kini bisa diikuti oleh kelompok. Ini dimaksudkan untuk menampung kreasi teman-teman pelajar/santri/mahasiswa yang tergabung dalam organisasi atau kelompok minat, misalnya OSIS, KIR, Rohis, Pecinta Alam, HMPS, HMJ, BEM, dll. Begitu juga bagi teman-teman guru/ustadz/dosen yang tergabung dalam MGMP, research group, dll. Serta peserta kategori umum, yang menjadi anggota TBM, forum literasi, rumah baca, dll.

Kami juga sedang mengupayakan untuk memberi ruang bagi teman-teman pengelola mading (majalah dinding) menampilkan kreasi madring (majalah dinding daringonline) mereka. Kami melakukan research, mencari plugins emagz (electronic magazines) yang tepat untuk ditambahkan di server blog, menulis tutorial membuat madring yang canggih menggunakan platform gratis, misalnya Canva.

Jadi, siapkan diri Anda untuk menjawab tantangan menulis di blog yang insyaAllah akan segera di-launching.

Karena kami masih mencari sponsor yang berkenan mendanai dan memberi penghargaan yang pantas bagi Anda. So, doain ya. Aamiin.

Go Millennial Festival

Bermula dari perbincangan intens secara jarak jauh lintas kabupaten, antara Jember dan Bondowoso, melalui media handphone, antara saya (Edy Jo, Founder PakarTI) dan Heru Mulyadi (Founder Rumah Kita) mengenai gagasan untuk mengadakan kegiatan bagi kaum milenial di Bondowoso, maka Sabtu (5 Oktober 2019) malam, kami memutuskan untuk mendiskusikan lebih lanjut realisasi gagasan tersebut.

Kami memilih untuk bertemu di tengah, tepatnya di kediaman Saudara Sutrisno (pegiat Smada88 Bondowoso Community), yang terletak di seberang Toko Jasmine, Maesan. Sekedar informasi, Maesan berjarak 14,6 km dari Kota Bondowoso dan 20,8 km dari Kota Jember.

Sebelumnya, kami sudah mengundang secara personal 2 komunitas di Bondowoso, yaitu Relawan TIK (RTIK) Bondowoso dan Relawan Muda Bondowoso (RMB). Datang pada pertemuan tersebut, Saudara Ridwan sebagai Ketua mewakili RTIK Bondowoso, serta Saudara Holidy sebagai tokoh senior RMB dan Nanda sebagai Admin akun media sosial RMB, keduanya mewakili RMB. Di samping anggota tim PakarTI dan Rumah Kita. Seluruhnya, berjumlah 9 orang.

Note: masih terbuka peluang komunitas lainnya di Bondowoso untuk memberikan kontribusi terbaik pada even Festival Milenial yang sedang kami gagas. Silakan kirim pesan WA.

Diary Became Story

Maaf, jika judulnya kurang tepat secara gramatikal (gramatically). Sengaja dipilih dengan pertimbangan estetika semata.

Salah satu harta karun sebagai bahan menulis adalah Diary. Diary tuh “buku catatan” yang di-isi tiap ary. Maksudnya, tiap hari. He. Kalau kalian sudah terbiasa, ya tinggal dibaca dan ditulis ulang ya. Gimana kalau belum terbiasa? Biasakanlah.

Namun, tulisan ini tidak akan membahas gimana cara untuk membiasakan menulis diary. Artikel ini akan membahas gimana cara menulis diary di laptop atau komputer (PC) menggunakan program Notepad.

Notepad dipilih karena merupakan editor teks (text editor) yang paling sederhana dan secara default telah terinstal pada laptop atau komputer berbasis sistem operasi Windows.

Pertama, aktifkan program Notepad.

Kedua, simpan sebagai (save as) dengan ekstensi file standar .txt, misalnya, Diary.txt.

Ketiga, pada baris pertama, tuliskan .LOG. Pastikan tanda baca . (titik) dituliskan di baris pertama dan kolom pertama.

.LOG

Keempat, silakan tutup (Close) Notepad.

Keenam, buka lagi file Diary.txt, maka pada baris berikutnya akan tertulis secara otomatis penanda waktu (time stamp), tanggal dan jam.

What Can I Do?

Alhamdulillah, setelah saya posting tulisan untuk menggugah teman-teman Smada88ers, tidak lama kemudian saya menerima sejumlah pesan, yang pada intinya menanyakan apa yang bisa saya lakukan untuk mendukung kegiatan Smada88 Care? Cak Inggris-sah, What can I do?

Namun, terus terang, saya tidak mengerti apa potensi terbaik teman-teman Smada88ers. Karena sebenarnya teman-teman sendirilah yang lebih memahami mengenai potensi dirinya masing-masing.

Dengan demikian teman-temanlah yang seharusnya berinisiatif untuk menawarkan diri menangani bidang apa sesuai dengan potensi diri dan passion masing-masing.

Seperti berikut ini:

“Suamiku punya akses ke petani kopi. Kami juga sudah biasa memasok kopi ke beberapa Cafe di Bondowoso. Kami siap memasok kopi mentah (green bean) terbaik untuk kopikampoeng.”

(Ini lanjutannya, tapi sebenarnya diminta untuk off the record) “Dengan catatan, aku maunya bermain dari balik panggung.”

Oke. No Problemo. Deal.

“Ibu mertuaku, cukup pakar dalam mengolah kopi secara tradisional, menyangrai kopi (roasting) menggunakan penai tembikar di atas tungku api dan menumbuknya (grinding) menjadi bubuk kopi. Beliau sering dimintai tolong oleh tetangga kami dan kenalannya untuk mengolah kopi mereka. InsyaAllah beliau bersedia membantu memproses kopikampoeng.”

Alhamdulillah. Sekali lagi, Deal.

“Aku punya skill di bidang fotografi. InsyaAllah aku siap membantu mengambil foto produk kopikampoeng, sesuai standar estetika fotografi.”

Trims banget, Bro.

“Kakakku mengelola Cafe di Bondowoso. Salah satu menu andalannya, kopi seduh. Kami siap menampung varian produk kopikampoeng untuk disajikan di Cafe kami.”

Barakallah, Bro.

“Grup WhatsApp-ku banyak. Ada grup tetangga, keluarga, teman sekolah, teman kuliah, kolega kantor, teman pengajian, dll. Aku bantu share ya.”

Monggo, dengan senang hati, Bro and Sis.

Seorang Smada88ers lagi, ketika diminta untuk membantu marketing dengan menjadi Brand Ambassador, dengan sigap menyatakan “InsyaAllah siap, Bro.” 

Alhamdulillah.

Gitu ya, teman-teman Smada88ers. Aku tunggu japri-annya.

Trus apalagi, Bro?

Sumbang saran (brainstroming) juga boleh, misalnya:

“Aku penikmat kopi. Lidahku bisa merasakan citarasa kopi. Salah satu kopi terbaik yang pernah kurasakan adalah kopi yang disajikan Ibuku untuk Bapakku. Dulu ketika aku masih kecil. Setelah kurenungkan, sepertinya karena kopi itu diproses secara tradisional. Nah, gimana kalo itu diterapkan pada kopikampoeng?”  

Great Idea, Bro.

Gimana kalo sumbang dana? Begh, cek bolehnya.

Karena kami perlu melakukan research and development. Kami juga perlu biaya produksi, biaya operasional, dll.

N.B (Norok Buntek):

“Lha, kamu sendiri ngapain, Bro?”

“Aku sih apalah. Gak lebih dari sebutir debu. Bisanya nulis doang.”

WhatsApp chat