Mac Tacker SARA?

Tulisan ini semata membahas soal etos kerja, sekalipun terkait dengan etnis tertentu. Budayakan membaca tulisan hingga akhir. Jangan disalahartikan sebagai black campaign. Juga, gak ada kaitannya dengan isu suku – agama – ras – dan – antar – golongan alias SARA.

Sekitar 14 kilometer arah tenggara kota Bondowoso, terdapat sebuah kecamatan Tamanan. Pada tahun 70-an, ada seorang Tuan Tanah (dalam pengertian positif ya!) karena memiliki sejumlah properti, berupa sawah, ladang, dan pekarangan di kota Tamanan dan sekitarnya. Beberapa diantaranya yang kini menjadi daerah ‘Pecinan’ di pusat kota Tamanan. Pada waktu itu belum begitu banyak jumlah kaum Cina perantauan dan aset kepemilikan mereka juga masih sedikit dan terpusat di sekitar ‘Pecinan’. Sedangkan saat ini, jumlah mereka bertambah (+) dan aset mereka tersebar, baik di ‘Pecinan’ maupun di sejumlah titik strategis kecamatan Tamanan.

Sementara aset Sang Tuan Tanah, pada akhirnya menjadi aset yang lebih sedikit karena terbagi (:) rata kepada sejumlah putra-putrinya sebagai harta warisan.

Ya, dalam ilmu matematika, bertambah (+) atau berkali-lipat (x) menjadi lebih banyak. Sedangkan, berkurang (-) atau terbagi (:) menjadi lebih sedikit.

Dan, ironisnya, Sang Tuan Tanah itu tidak lain adalah ‘my-beloved-grand-pa‘ (kakek saya tercinta).

Beberapa tahun kemudian, ketika kuliah strata-1 di Universitas Jember, saya tinggal bersama kakak sulung (Dosen Politeknik Pertanian Jember) di daerah Patrang. Tetangga sebelah rumah kami, adalah keluarga pendatang dari tanah Pasundan. Profesi mereka adalah mindreng, yaitu berjualan alat-alat kebutuhan rumah tangga dengan cara berkeliling dari pintu-ke-pintu (door-to-door) secara tunai maupun kredit.

Secara berkala, datang anggota keluarga baru yang kemudian dididik untuk meneruskan profesi mereka. Pada tahap pertama, ia akan dilepas bersama porter yang membawa barang dagangan dengan cara dipikul. Mereka berdua berjalan kaki beriringan. Berikutnya, setelah kliennya lebih banyak, area pemasaran lebih luas, dan omzet meningkat, maka ia akan naik kelas, dengan mengedarkan barang dagangannya menggunakan sepeda onthel, lalu sepeda motor, hingga akhirnya pick up bak terbuka.

Ketika saya kuliah strata-2 di Universitas Negeri Malang, saya mengamati sejumlah pekerjaan non-formal, seperti pedagang di Pasar Besar (Induk), pedagang buah di tepi jalan, tukang becak, dan tukang parkir, dikuasai oleh oreng Madureh. Dalam suatu perbincangan dengan salah seorang tukang parkir, ia menceritakan bahwa mereka (komunitas oreng Madureh) memiliki ‘saudara’ (tretan) yang memiliki kewenangan untuk membagi areal parkir. Jika ada Ruko baru akan dibuka, maka mereka akan mengajak saudara mereka untuk menjadi tukang parkir dengan memberikan kompensasi tertentu pada tretan ‘pejabat’ mereka.

Berdasar cerita di atas, kita bisa menyimpulkan, bagaimana para perantau bisa eksis di tanah rantau? Salah satunya, karena mereka memiliki etos kerja lebih tinggi.

Logika sederhananya begini, jika mereka yang sudah bela-belain meninggalkan tanah kelahiran mereka, terpisah dari keluarga dan teman-teman mereka, berusaha dengan apa adanya atau etos kerjanya biasa saja, lalu untuk apa mereka merantau?

Terus terang, saya dan beberapa teman Smada88ers, merasa salut dengan kesuksesan teman-teman ‘putra daerah’ asal Bondowoso yang mencari nafkah di rantau. Diantaranya, teman-teman JakBonders.

Pada sisi lain, teman-teman Smada88ers yang ‘setia’ mencari nafkah di kota tercinta Bondowoso, juga memiliki kelebihan. Mereka lebih mengenal dan lebih kaya informasi akan potensi lokal di Bondowoso.

Anda bisa membayangkan jika kedua kekuatan ini bersatu atau disatukan. Bersinergi, menggalang kekuatan, maka kita akan bisa memberdayakan masyarakat Bondowoso dan memajukan Bondowoso pada umumnya.

Lalu bagaimana caranya? Pertama, lebih kita intenskan komunikasi dua-arah di antara kedua pihak, melalui forum Grup WhatsApp atau dengan menulis komentar di akhir tulisan ini. Kedua, teman-teman di Bondowoso akan melakukan pendekatan dan menjalin komunikasi secara pribadi (personal approach) pada pejabat pemangku kepentingan (stakeholders) di Bondowoso. Ketiga, kita akan mengagendakan forum pertemuan yang akan mempertemukan seluruh potensi ‘putra-putri terbaik’ Bondowoso. InsyaAllah pada momen ‘pulang kampoeng’ tahun ini.

Doakan ya. Aamiin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.