Mak Perak KopiKampoeng?

Usaha produktif teman-teman alumni Smada88 bukan hanya KopiKampoeng. KopiKampoeng hanyalah salah satunya. Itu sepenuhnya benar. Saya mengenal produk andalan mereka. Saya bisa mencantumkan beberapa diantaranya. Selain itu, mungkin masih banyak teman-teman alumni Smada88 yang memiliki produk andalan.

Heru Mulyadi memasarkan Rengginang khas dari Panarukan, Situbondo. Ia pernah mengirim ke sejumlah daerah, antara lain ke Jogja. Juga memasarkan Kaldu alami berbahan dasar Jamur, dengan varian rasa: Ayam, Sapi, dan Original (Jamur).

Dia juga mengelola Rumah Kita, yang bergerak di bidang Event OrganizerTraveling, Trading, Training, Outbound, Counseling, serta Health & Therapist.

Sisyanto beternak Puyuh dan melakukan budidaya Jamur Tiram, kemudian memasarkan hasil panennya, yaitu Telur Puyuh dan Jamur Tiram Segar, ke Pasar Klabang, Bondowoso.

Sudrajat ‘mengekspor’ Tape Bondowoso ke Surabaya.

Yulius membuat mebel klasik dan artistik.

Hendro dan Acuk mengelola Perumahan Kharisma Regency di Traktakan, Wonosari, Bondowoso.

Sugiharsono, memiliki skill yang mumpuni di bidang fotografi.

Tris, InsyaAllah, akan melakukan branding product Rambak My Son (baca: Maesan). 

Keluarga SanusiInsyaAllah, akan membuat kue Ladrang.

Satu lagi, Prita. Ia memproduksi dan memasarkan Stik Sukun dan Kopi Bubuk. Kopi Bubuk ya, bukan Kopi Bobok, karena bisa beda pengertian. Bubuk itu kosakata Bahasa Indonesia, sedangkan Bobok itu dialek ‘Behesah’ Bendebesah. Nama brand-nya Maretta Coffee. Produk berbasis kopi juga.

Pertanyaannya, mak perak KopiKampoeng yang dibahas di Blog RumahKita?

Nggak juga, kan?