Smada88 Family Care: Ibunda Ariadie

Salah satu amanah teman-teman Smada88ers yang hadir pada Smada88 Family Gathering di kediaman Heru Mulyadi, 2 tahun yang lalu, adalah: Smada88 Family Care.

Dalam hal ini, jika terdapat alumni atau keluarga alumni mengalami musibah, menderita sakit, atau bahkan meninggal dunia, maka teman-teman Smada88ers lainnya diharapkan berperan serta secara aktif untuk meringankan derita mereka, dengan mengunjungi (bezoek atau takziah), untuk memberikan dukungan moral.

Sabtu, 16 Februari 2019, kami menerima kabar salah seorang teman kita, Ariadie mengalami duka mendalam karena ditinggal oleh ibunda tercinta.

Beberapa teman, antara lain: Heru Mulyadi, Encoel, dan Mugi, berkesempatan dan berkenan mengantar almarhumah Ibunda Ariadie menuju ke tempat peristirahatan terakhirnya.

Kemudian keesokan harinya, Minggu 18 Februari 2019, beberapa teman memberikan dukungan moral dengan mengunjungi rumah duka di belakang Gelora, Bondowoso.

Takziah ke kediaman keluarga Ariadie

Sebagaimana nampak di foto: Indah, Yanick, Prima, Edy Jo, Tris, dan Heru Mulyadi, serta yang paling kanan, Ariadie.

Semoga almarhumah husnul khotimah, dan keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan. Aamiin.

Mac Tacker SARA?

Tulisan ini semata membahas soal etos kerja, sekalipun terkait dengan etnis tertentu. Budayakan membaca tulisan hingga akhir. Jangan disalahartikan sebagai black campaign. Juga, gak ada kaitannya dengan isu suku – agama – ras – dan – antar – golongan alias SARA.

Sekitar 14 kilometer arah tenggara kota Bondowoso, terdapat sebuah kecamatan Tamanan. Pada tahun 70-an, ada seorang Tuan Tanah (dalam pengertian positif ya!) karena memiliki sejumlah properti, berupa sawah, ladang, dan pekarangan di kota Tamanan dan sekitarnya. Beberapa diantaranya yang kini menjadi daerah ‘Pecinan’ di pusat kota Tamanan. Pada waktu itu belum begitu banyak jumlah kaum Cina perantauan dan aset kepemilikan mereka juga masih sedikit dan terpusat di sekitar ‘Pecinan’. Sedangkan saat ini, jumlah mereka bertambah (+) dan aset mereka tersebar, baik di ‘Pecinan’ maupun di sejumlah titik strategis kecamatan Tamanan.

Sementara aset Sang Tuan Tanah, pada akhirnya menjadi aset yang lebih sedikit karena terbagi (:) rata kepada sejumlah putra-putrinya sebagai harta warisan.

Ya, dalam ilmu matematika, bertambah (+) atau berkali-lipat (x) menjadi lebih banyak. Sedangkan, berkurang (-) atau terbagi (:) menjadi lebih sedikit.

Dan, ironisnya, Sang Tuan Tanah itu tidak lain adalah ‘my-beloved-grand-pa‘ (kakek saya tercinta).

Beberapa tahun kemudian, ketika kuliah strata-1 di Universitas Jember, saya tinggal bersama kakak sulung (Dosen Politeknik Pertanian Jember) di daerah Patrang. Tetangga sebelah rumah kami, adalah keluarga pendatang dari tanah Pasundan. Profesi mereka adalah mindreng, yaitu berjualan alat-alat kebutuhan rumah tangga dengan cara berkeliling dari pintu-ke-pintu (door-to-door) secara tunai maupun kredit.

Secara berkala, datang anggota keluarga baru yang kemudian dididik untuk meneruskan profesi mereka. Pada tahap pertama, ia akan dilepas bersama porter yang membawa barang dagangan dengan cara dipikul. Mereka berdua berjalan kaki beriringan. Berikutnya, setelah kliennya lebih banyak, area pemasaran lebih luas, dan omzet meningkat, maka ia akan naik kelas, dengan mengedarkan barang dagangannya menggunakan sepeda onthel, lalu sepeda motor, hingga akhirnya pick up bak terbuka.

Ketika saya kuliah strata-2 di Universitas Negeri Malang, saya mengamati sejumlah pekerjaan non-formal, seperti pedagang di Pasar Besar (Induk), pedagang buah di tepi jalan, tukang becak, dan tukang parkir, dikuasai oleh oreng Madureh. Dalam suatu perbincangan dengan salah seorang tukang parkir, ia menceritakan bahwa mereka (komunitas oreng Madureh) memiliki ‘saudara’ (tretan) yang memiliki kewenangan untuk membagi areal parkir. Jika ada Ruko baru akan dibuka, maka mereka akan mengajak saudara mereka untuk menjadi tukang parkir dengan memberikan kompensasi tertentu pada tretan ‘pejabat’ mereka.

Berdasar cerita di atas, kita bisa menyimpulkan, bagaimana para perantau bisa eksis di tanah rantau? Salah satunya, karena mereka memiliki etos kerja lebih tinggi.

Logika sederhananya begini, jika mereka yang sudah bela-belain meninggalkan tanah kelahiran mereka, terpisah dari keluarga dan teman-teman mereka, berusaha dengan apa adanya atau etos kerjanya biasa saja, lalu untuk apa mereka merantau?

Terus terang, saya dan beberapa teman Smada88ers, merasa salut dengan kesuksesan teman-teman ‘putra daerah’ asal Bondowoso yang mencari nafkah di rantau. Diantaranya, teman-teman JakBonders.

Pada sisi lain, teman-teman Smada88ers yang ‘setia’ mencari nafkah di kota tercinta Bondowoso, juga memiliki kelebihan. Mereka lebih mengenal dan lebih kaya informasi akan potensi lokal di Bondowoso.

Anda bisa membayangkan jika kedua kekuatan ini bersatu atau disatukan. Bersinergi, menggalang kekuatan, maka kita akan bisa memberdayakan masyarakat Bondowoso dan memajukan Bondowoso pada umumnya.

Lalu bagaimana caranya? Pertama, lebih kita intenskan komunikasi dua-arah di antara kedua pihak, melalui forum Grup WhatsApp atau dengan menulis komentar di akhir tulisan ini. Kedua, teman-teman di Bondowoso akan melakukan pendekatan dan menjalin komunikasi secara pribadi (personal approach) pada pejabat pemangku kepentingan (stakeholders) di Bondowoso. Ketiga, kita akan mengagendakan forum pertemuan yang akan mempertemukan seluruh potensi ‘putra-putri terbaik’ Bondowoso. InsyaAllah pada momen ‘pulang kampoeng’ tahun ini.

Doakan ya. Aamiin.

Nostalgila SMA

Seorang teman mengajak saya join di Facebook alumni SMAN 2 Bondowoso. Setelah join, saya menulis di wall sesuatu mengenai saya yang bisa mengingatkan teman-teman alumni lainnya. “Saya pernah ngegambar karikatur di mading mengenai pungutan pembangunan pagar.”

Sebutkan pepatah yang memuat kata smada. Smada-madanya tupai melompat, akhirnya jatuh juga.

Ceritanya begini, ketika kelas 1 ortu kami di kumpulkan BP3 dan dimintai sumbangan untuk membangun pagar keliling. Ortu kelas 1 dikenai 15 ribu, ortu kelas 2 dikenai 10 ribu, ortu kelas 3 dikenai 5 ribu. Pada tahun 1985, nilainya relatif besar, karena kurs Dolar masih berkisar seribuan. Nah, sebagai generasi penerus bangsa (lo?), kami ingin mengajukan protes ‘keberatan’. Di kelas, kami berunding dipimpin ketua kelas, Heru Pambudi. Kemudian disepakati, kami akan menggambar karikatur di mading. Kebetulan, dua pengelola mading –Noertjahjani dan Farida Juliyanti– adalah teman sekelas. Saya dan Edy Suhartono kebagian menggambarnya.

Sebutkan pepatah yang ada kaitannya dengan mading. Ibarat mading teriak mading. Tidak ada mading yang tak retak.

Deskripsi karikatur saya adalah penganugerahan medali oleh BP3, seperti pengalungan medali pada pemenang suatu kompetisi. Juara ketiga (kelas 3) mendapat medali 5 ribu, juara kedua (kelas 2) mendapat medali 10 ribu, dan juara pertama (kelas 1) mendapat medali 15 ribu. Karena keberatan, penerima medali sampai terbungkuk-bungkuk. Karikatur Edy Sahur temanya sama, tapi saya lupa detilnya.

Setelah karikatur dimuat, Kepsek (pak Sri) sowan ke kelas kami. Karena di karikatur saya mengatasnamakan kelas, bukan pribadi. Saya menulis, people jiero. Siji loro atau kelas 1.2. Kami mengatur strategi dengan menempatkan teman-teman cewek di bangku terdepan. Karena waktu itu beliau masih jomblo.

sebutkan majalah yang tidak disukai istri pelaku poligami, tapi bukan mading (majalah dinding). jawabnya adalah madu (majalah kedua).

Setelah saya menulis di wall Facebook alumni, beberapa teman alumni lain menanggapi. Sepertinya mereka masih ingat sejarah. Sebagaimana Bung Karno pernah berpesan, “Jangan sekali-kali melupakan sejarah”. JAS MERAH.

Pengalaman kamu lebih gila? Tulis saja di komentar.

Mak Perak KopiKampoeng?

Usaha produktif teman-teman alumni Smada88 bukan hanya KopiKampoeng. KopiKampoeng hanyalah salah satunya. Itu sepenuhnya benar. Saya mengenal produk andalan mereka. Saya bisa mencantumkan beberapa diantaranya. Selain itu, mungkin masih banyak teman-teman alumni Smada88 yang memiliki produk andalan.

Heru Mulyadi memasarkan Rengginang khas dari Panarukan, Situbondo. Ia pernah mengirim ke sejumlah daerah, antara lain ke Jogja. Juga memasarkan Kaldu alami berbahan dasar Jamur, dengan varian rasa: Ayam, Sapi, dan Original (Jamur).

Dia juga mengelola Rumah Kita, yang bergerak di bidang Event OrganizerTraveling, Trading, Training, Outbound, Counseling, serta Health & Therapist.

Sisyanto beternak Puyuh dan melakukan budidaya Jamur Tiram, kemudian memasarkan hasil panennya, yaitu Telur Puyuh dan Jamur Tiram Segar, ke Pasar Klabang, Bondowoso.

Sudrajat ‘mengekspor’ Tape Bondowoso ke Surabaya.

Yulius membuat mebel klasik dan artistik.

Hendro dan Acuk mengelola Perumahan Kharisma Regency di Traktakan, Wonosari, Bondowoso.

Sugiharsono, memiliki skill yang mumpuni di bidang fotografi.

Tris, InsyaAllah, akan melakukan branding product Rambak My Son (baca: Maesan). 

Keluarga SanusiInsyaAllah, akan membuat kue Ladrang.

Satu lagi, Prita. Ia memproduksi dan memasarkan Stik Sukun dan Kopi Bubuk. Kopi Bubuk ya, bukan Kopi Bobok, karena bisa beda pengertian. Bubuk itu kosakata Bahasa Indonesia, sedangkan Bobok itu dialek ‘Behesah’ Bendebesah. Nama brand-nya Maretta Coffee. Produk berbasis kopi juga.

Pertanyaannya, mak perak KopiKampoeng yang dibahas di Blog RumahKita?

Nggak juga, kan?