Rest in Peace, Bro!

Kemarin siang (Sabtu, 5 Oktober 2019), seorang teman sekolah seangkatan (Nico) mengabarkan berita duka di Grup WhatsApp Alumni Smada88 Bondowoso. Sebenarnya, itu bukan berita duka pertama yang dikabarkan via Grup WA. Namun, berita duka sebelum-sebelumnya, berupa berita duka mengenai “kepergian” keluarga teman-teman alumni. Entah itu Ayah atau Ibu teman-teman atau salah seorang Guru kami.

Pada mulanya, saya juga berpikir begitu. Itu merupakan berita duka kepergian anggota keluarga salah seorang teman. Namun, ketika teman-teman lain menanggapi, antara lain dengan menampilkan foto ketika ybs masih sekolah dan menyebutkan ciri-ciri fisiknya, sayapun menyimak lebih detil berita duka tersebut. Ternyata disebutkan usianya, yaitu 50 tahun. Oh my God, ternyata dia adalah teman seangkatan kami. Alumni Smada88 Bondowoso lulusan tahun 1988.

Dalam satu angkatan, kami terdiri dari 5 kelas pararel. Fisika (A1) 1 kelas, Biologi (A2) dan IPS (A3) masing-masing 2 kelas. Informasi dari teman-teman, ybs adalah kelas Biologi 1. Perawakannya kurus, tinggi dan pendiam. Selepas dari SMA, melanjutkan studi di Universitas Jember.

Dengan ini, kami melepas kepergianmu. Selamat jalan, Sahabat. Beristirahatlah dengan tenang.

IT Workshop for Teacher

Alhamdulillah, pada Minggu, 8 September 2019, telah dilaksanakan IT Workshop for Teacher (Workshop TI untuk Guru) mengenai Developing the Multiple Choice Online Quiz using Hot Potatoes 7.0 (JQuiz) (Pengembangan Ujian Online Menggunakan Hot Potatoes 7.0 (JQuiz).

Workshop diadakan oleh PakarTI (https://pakarti.wordpress.com), Rumah Kita (https://rumahkita.or.id an Event Organizer), SekolahGratis (https://fb.me/SekolahGratis2), dan Smada88 Bondowoso Community (https://rumahkita.or.id/smada88) bertempat di PakarTI Learning Center, Wisma Cadas Tirta Indah Nomor 26, Dabasah, Bondowoso.

PakarTI mengelola materi dan pemateri workshop. Rumah Kita sebagai lembaga yang secara legal memiliki kewenangan untuk mengadakan workshop. SekolahGratis mendukung kegiatan sehingga sesuai tagline SekolahGratis, yaitu belajar gak harus bayar. Terima kasih pada Donatur, salah seorang diantaranya anggota komunitas Smada88 Bondowoso, atas donasinya.

Sedangkan Smada88 Bondowoso Community mengerahkan anggota komunitasnya, terutama yang menjadi guru untuk mengikuti workshop. Hingga hari H-2 terdaftar 8 peserta. Namun, menjelang hari H 4 diantaranya membatalkan kehadiran.

Sebagai penghargaan, kami memberikan Piagam atas keikutsertaan mereka.

Family Gathering di Ijen, yuk!

Beneran nih teman2 Smada88ers gak mau mudik ke Bondowoso? Saturday night ntar lagi ada even seru lo di “kampung” kita. Ijen Jazzy Night.

Lokasinya dimana? Di Tamansari? Eh, bukanlah. Itu kan Hotel Ijen View. Even ini akan diadakan di Ijen “beneran”. Di sekitaran Kawah Ijen. Tepatnya  di areal Hotel Arabika Home Stay.

Gak kuatir nyesel? Saya aja yang udah 3 kali ke sana, masih pingin ke sana lagi.

Kunjungan pertama, bareng teman2 kuliah S1, tahun 1990-an. Serunya, kami naik truk bak terbuka dari Gardu Atak ke Sempol. Tidurnya di gedung sekolah (SD). Pas musim kemarau. Dinginnya minta maaf. Saking dinginnya. Biasanya kan minta ampun. Kemana-mananya jalan kaki. Ngeliat kawahnya, naik-naik ke puncak, jalan kaki. Gak liat blue fire karena kesiangan. Ke pemandian air panas (belerang) jalan kaki. Ke air terjun yang airnya terjun ke dalam tanah ya jalan kaki. Serba jualan kaki, eh jalan kaki.  

Kunjungan kedua bareng keluarga, waktu saya terpilih menjadi salah seorang Inprirator di Kelas Inspirasi (KI) Bondowoso, tahun 2016 (kali ya). Kali ini naik mobil sendiri, nginapnya di Arabika Home Stay. Setelah kegiatan, kami jalan-jalan ke Kebun Strawberry dan Pemandian di Blawan.

Kunjungan ketiga, bareng keluarga ‘kecil’ saya dan keluarga ‘besar’ Smada88 Bondowoso Community dan beberapa Donatur SekolahGratis.

Sebelum ke lokasi, kami Berbagi Mukena ke Madrasah Tsanawiyah (MTs), sekolah yang dipimpin oleh teman kita, Yaminah. Setelah selesai, kami menuju ke Kawah Wurung, atau lebih dikenal sebagai Bukit Teletubbies. Sayangnya, waktu itu turun hujan. Jalanan licin. Gak bisa mampir ke Jampit, karena terhalang pohon tumbang yang melintang di jalan. Namun sedikit terobati ketika mampir ke Kebun Strawberry.

Gimana nih teman-teman Smada88ers? Udah pingin mudik kan?

Oya, info dari Panitia, salah seorang guest star yang akan datang, Marcel.

Gimana nih kalo kita bareng-bareng ke Ijen Jazzy Night? Kita berangkat Sabtu siang. Sabtu malam nonton bareng. Besoknya jalan-jalan ke Bukit Teletubbies, “Rumah Belanda” di Jampit, dan Kebun Strawberry. 

Opsi pertama, kita bisa naik angkutan umum dari Terminal Bondowoso ke Sempol. Ongkosnya Rp25.000. Pulangnya sama Rp25.000. Untuk keliling ke 3 lokasi, sewa kendaraan, sekitar Rp25.000 perorang. Penginapan Rp150.000 perkamar atau Rp75.000 perorang. Makan 3 kali, anggap saja Rp15.000 sekali makan, ya Rp45.000. Tiket masuk ke lokasi wisata Rp10.000. Total Rp200 ribuan.

Opsi kedua, sewa mobil. Mobil Elf yang muat 14 orang, sekitar Rp400.000, Solar Rp150.000, Driver Rp200.000. Ini estimasi lo ya. Keuntungannya lagi, kalau kita mendapat penginapan yang agak jauh dari lokasi Ijen Jazz Night, kita gak perlu jalan kaki. Secara hitung-hitungan masih lebih irit, karena ditanggung bareng 14 orang peserta. BDD = Bayar Dewe-Dewe. MBS = Majer Beng-Sebeng. 

Info dari local partner, Arabika Home Stay udah full booking. Tuh kan, bakalan banyak tamu yang akan datang.

Kalo teman-teman minat, japri Heru Mulyadi ya. Dia EO-nya.

Guru Belajar

Siswa belajar itu biasa. Guru belajar itu luar biasa.

Brosur Diklat TI

Seiring dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK), saat ini pelaksanaan ujian online di sekolah sudah menjadi keniscayaan.

Untuk itu, guru diharapkan untuk melek teknologi, salah satunya dituntut mampu mengembangkan soal-soal ujian online terutama soal pilihan ganda (multiple choice) menggunakan program JQuiz (HotPotatoes) untuk kepentingan evaluasi pembelajaran.

Banner Diklat TI

Pelatihan diadakan di PakarTI Learning Center (Rumah Kita) Perumahan Cadas Tirta Indah pada Minggu, 15 September 2019 mulai pukul 8.30 hingga 11.30 WIB.

Kegiatan diikuti oleh 4 orang Guru, yaitu: (1) Okta Mariana (Guru Bahasa Inggris di SMP Negeri 1 Tamanan, Bondowoso), (2) Artatik (Guru Matematika di SMP Negeri Tapen, Bondowoso), (3) Haryantini (Sanggar Kegiatan Belajar –SKB, Bondowoso), dan (4) Asis Saifullah (Guru Madrasah Aliyah Nurul Jadid, Botolinggo, Bondowoso).

Opening Ceremony

Kegiatan Diklat TI dibuka oleh Saudara Heru Mulyadi, selaku Founder Rumah Kita, salah satu supporting team kegiatan Diklat TI.

Setelah itu, kegiatan pelatihan di-handle oleh Saudara Edy Wihardjo yang bertindak selaku Trainer. Beliau adalah Dosen Peneliti di Universitas Jember, dengan bidang keahlian Pengembangan Media Pembelajaran Berbantuan Komputer (Computer-Based Learning).

Pemaparan materi

Kegiatan pelatihan dilakukan dengan metode learning by doing, dimana seluruh peserta menerima materi pelatihan sambil mempraktikkan secara langsung di laptop masing-masing.

Sehari sebelumnya, peserta diminta untuk mengunduh (download) program pendukung, yaitu HotPotatoes dari laman: the University of Victoria https://hotpot.uvic.ca/. Kemudian menginstal HotPotatoes di laptop mereka berdasarkan panduan instalasi yang dikirimkan sebagai pesan WhatsApp melalui Grup WA “Diklat TI”.

Learning by Doing

Setelah pemaparan diberikan kesempatan sesi tanya jawab bagi peserta. Beberapa poin pertanyaan yang menarik, antara lain: (1) bagaimana menyisipkan persamaan matematika (equation) ke dalam soal atau opsi jawaban, (2) bagaimana mengacak (shuffle) soal dan atau opsi jawaban, (3) bagaimana membuat jawaban siswa langsung tercatat, misalnya dikirim melalui email.

Diskusi dalam Sesi Tanya Jawab

Kegiatan Diklat TI terselenggara berkat dukungan dari (supported by): (1) SekolahGratis suatu gerakan sosial dengan taglineBelajar Gak Harus Bayar”, (2) Rumah Kita, dan (3) Smada88 Bondowoso Community.

Sebagai catatan, pemateri dan seluruh peserta merupakan anggota komunitas Smada88 Bondowoso Community, yaitu Komunitas Alumni SMA Negeri 2 Bondowoso, khususnya tahun lulus 1988.

Allahummaj’al Hajjan Mabruuro

Alhamdulillah, salah seorang Smada88ers –alumni Smada Bondowoso– telah memenuhi undangan Allah untuk menunaikan ibadah haji pada musim haji tahun 2019 ini.

Namanya Mahisa Devi (ke-3 dari kiri), merupakan salah seorang Tenaga Medis atau Petugas Kesehatan dari rombongan jamaah haji Kabupaten Bondowoso. Devi tiba kembali dengan selamat di Bondowoso Rabu (4/9/2019), sehari setelah kedatangan jamaah haji Kabupaten Bondowoso Selasa (3/9/2019), karena masih perlu menyelesaikan pelaporan kegiatannya.

Sejumlah Smada88ers menyambut kedatangannya dengan melakukan silaturahim ke kediamannya di daerah Kauman pada Sabtu (7/9/2019) dan Minggu (8/9/2019). Diantaranya: Edy Jo, Heru Mul, Azis Syaifullah, Sutrisno, Hawapi, Indah Sri Yuli, Tata Ismail, Tri Hidayati, Yulius dan teman-teman.

Semoga menjadi Haji yang mabrurah, ya Hajjah Devi.

Pray 4 Pak Qodri

#Pray4PakQodri

Pak Qodri, salah seorang guru ketika kita sekolah di Smada Bondowoso, saat ini menjalani perawatan intensif di Ruang ICCU (khusus jantung) RSU dr. Kusnadi Bondowoso.

Beliau mengalami komplikasi serangan jantung (bengkak).

Kolega beliau dan teman-teman alumni Smada Bondowoso, terutama yang tinggal di Bondowoso, berbagi tugas menjaga secara bergantian untuk menggantikan peran keluarga.

Luangkan waktu. Berikan doa terbaik teman-teman untuk kesembuhan beliau.

Smada88 Family Care: Ibunda Ariadie

Salah satu amanah teman-teman Smada88ers yang hadir pada Smada88 Family Gathering di kediaman Heru Mulyadi, 2 tahun yang lalu, adalah: Smada88 Family Care.

Dalam hal ini, jika terdapat alumni atau keluarga alumni mengalami musibah, menderita sakit, atau bahkan meninggal dunia, maka teman-teman Smada88ers lainnya diharapkan berperan serta secara aktif untuk meringankan derita mereka, dengan mengunjungi (bezoek atau takziah), untuk memberikan dukungan moral.

Sabtu, 16 Februari 2019, kami menerima kabar salah seorang teman kita, Ariadie mengalami duka mendalam karena ditinggal oleh ibunda tercinta.

Beberapa teman, antara lain: Heru Mulyadi, Encoel, dan Mugi, berkesempatan dan berkenan mengantar almarhumah Ibunda Ariadie menuju ke tempat peristirahatan terakhirnya.

Kemudian keesokan harinya, Minggu 18 Februari 2019, beberapa teman memberikan dukungan moral dengan mengunjungi rumah duka di belakang Gelora, Bondowoso.

Takziah ke kediaman keluarga Ariadie

Sebagaimana nampak di foto: Indah, Yanick, Prima, Edy Jo, Tris, dan Heru Mulyadi, serta yang paling kanan, Ariadie.

Semoga almarhumah husnul khotimah, dan keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan. Aamiin.

Mac Tacker SARA?

Tulisan ini semata membahas soal etos kerja, sekalipun terkait dengan etnis tertentu. Budayakan membaca tulisan hingga akhir. Jangan disalahartikan sebagai black campaign. Juga, gak ada kaitannya dengan isu suku – agama – ras – dan – antar – golongan alias SARA.

Sekitar 14 kilometer arah tenggara kota Bondowoso, terdapat sebuah kecamatan Tamanan. Pada tahun 70-an, ada seorang Tuan Tanah (dalam pengertian positif ya!) karena memiliki sejumlah properti, berupa sawah, ladang, dan pekarangan di kota Tamanan dan sekitarnya. Beberapa diantaranya yang kini menjadi daerah ‘Pecinan’ di pusat kota Tamanan. Pada waktu itu belum begitu banyak jumlah kaum Cina perantauan dan aset kepemilikan mereka juga masih sedikit dan terpusat di sekitar ‘Pecinan’. Sedangkan saat ini, jumlah mereka bertambah (+) dan aset mereka tersebar, baik di ‘Pecinan’ maupun di sejumlah titik strategis kecamatan Tamanan.

Sementara aset Sang Tuan Tanah, pada akhirnya menjadi aset yang lebih sedikit karena terbagi (:) rata kepada sejumlah putra-putrinya sebagai harta warisan.

Ya, dalam ilmu matematika, bertambah (+) atau berkali-lipat (x) menjadi lebih banyak. Sedangkan, berkurang (-) atau terbagi (:) menjadi lebih sedikit.

Dan, ironisnya, Sang Tuan Tanah itu tidak lain adalah ‘my-beloved-grand-pa‘ (kakek saya tercinta).

Beberapa tahun kemudian, ketika kuliah strata-1 di Universitas Jember, saya tinggal bersama kakak sulung (Dosen Politeknik Pertanian Jember) di daerah Patrang. Tetangga sebelah rumah kami, adalah keluarga pendatang dari tanah Pasundan. Profesi mereka adalah mindreng, yaitu berjualan alat-alat kebutuhan rumah tangga dengan cara berkeliling dari pintu-ke-pintu (door-to-door) secara tunai maupun kredit.

Secara berkala, datang anggota keluarga baru yang kemudian dididik untuk meneruskan profesi mereka. Pada tahap pertama, ia akan dilepas bersama porter yang membawa barang dagangan dengan cara dipikul. Mereka berdua berjalan kaki beriringan. Berikutnya, setelah kliennya lebih banyak, area pemasaran lebih luas, dan omzet meningkat, maka ia akan naik kelas, dengan mengedarkan barang dagangannya menggunakan sepeda onthel, lalu sepeda motor, hingga akhirnya pick up bak terbuka.

Ketika saya kuliah strata-2 di Universitas Negeri Malang, saya mengamati sejumlah pekerjaan non-formal, seperti pedagang di Pasar Besar (Induk), pedagang buah di tepi jalan, tukang becak, dan tukang parkir, dikuasai oleh oreng Madureh. Dalam suatu perbincangan dengan salah seorang tukang parkir, ia menceritakan bahwa mereka (komunitas oreng Madureh) memiliki ‘saudara’ (tretan) yang memiliki kewenangan untuk membagi areal parkir. Jika ada Ruko baru akan dibuka, maka mereka akan mengajak saudara mereka untuk menjadi tukang parkir dengan memberikan kompensasi tertentu pada tretan ‘pejabat’ mereka.

Berdasar cerita di atas, kita bisa menyimpulkan, bagaimana para perantau bisa eksis di tanah rantau? Salah satunya, karena mereka memiliki etos kerja lebih tinggi.

Logika sederhananya begini, jika mereka yang sudah bela-belain meninggalkan tanah kelahiran mereka, terpisah dari keluarga dan teman-teman mereka, berusaha dengan apa adanya atau etos kerjanya biasa saja, lalu untuk apa mereka merantau?

Terus terang, saya dan beberapa teman Smada88ers, merasa salut dengan kesuksesan teman-teman ‘putra daerah’ asal Bondowoso yang mencari nafkah di rantau. Diantaranya, teman-teman JakBonders.

Pada sisi lain, teman-teman Smada88ers yang ‘setia’ mencari nafkah di kota tercinta Bondowoso, juga memiliki kelebihan. Mereka lebih mengenal dan lebih kaya informasi akan potensi lokal di Bondowoso.

Anda bisa membayangkan jika kedua kekuatan ini bersatu atau disatukan. Bersinergi, menggalang kekuatan, maka kita akan bisa memberdayakan masyarakat Bondowoso dan memajukan Bondowoso pada umumnya.

Lalu bagaimana caranya? Pertama, lebih kita intenskan komunikasi dua-arah di antara kedua pihak, melalui forum Grup WhatsApp atau dengan menulis komentar di akhir tulisan ini. Kedua, teman-teman di Bondowoso akan melakukan pendekatan dan menjalin komunikasi secara pribadi (personal approach) pada pejabat pemangku kepentingan (stakeholders) di Bondowoso. Ketiga, kita akan mengagendakan forum pertemuan yang akan mempertemukan seluruh potensi ‘putra-putri terbaik’ Bondowoso. InsyaAllah pada momen ‘pulang kampoeng’ tahun ini.

Doakan ya. Aamiin.

Nostalgila SMA

Seorang teman mengajak saya join di Facebook alumni SMAN 2 Bondowoso. Setelah join, saya menulis di wall sesuatu mengenai saya yang bisa mengingatkan teman-teman alumni lainnya. “Saya pernah ngegambar karikatur di mading mengenai pungutan pembangunan pagar.”

Sebutkan pepatah yang memuat kata smada. Smada-madanya tupai melompat, akhirnya jatuh juga.

Ceritanya begini, ketika kelas 1 ortu kami di kumpulkan BP3 dan dimintai sumbangan untuk membangun pagar keliling. Ortu kelas 1 dikenai 15 ribu, ortu kelas 2 dikenai 10 ribu, ortu kelas 3 dikenai 5 ribu. Pada tahun 1985, nilainya relatif besar, karena kurs Dolar masih berkisar seribuan. Nah, sebagai generasi penerus bangsa (lo?), kami ingin mengajukan protes ‘keberatan’. Di kelas, kami berunding dipimpin ketua kelas, Heru Pambudi. Kemudian disepakati, kami akan menggambar karikatur di mading. Kebetulan, dua pengelola mading –Noertjahjani dan Farida Juliyanti– adalah teman sekelas. Saya dan Edy Suhartono kebagian menggambarnya.

Sebutkan pepatah yang ada kaitannya dengan mading. Ibarat mading teriak mading. Tidak ada mading yang tak retak.

Deskripsi karikatur saya adalah penganugerahan medali oleh BP3, seperti pengalungan medali pada pemenang suatu kompetisi. Juara ketiga (kelas 3) mendapat medali 5 ribu, juara kedua (kelas 2) mendapat medali 10 ribu, dan juara pertama (kelas 1) mendapat medali 15 ribu. Karena keberatan, penerima medali sampai terbungkuk-bungkuk. Karikatur Edy Sahur temanya sama, tapi saya lupa detilnya.

Setelah karikatur dimuat, Kepsek (pak Sri) sowan ke kelas kami. Karena di karikatur saya mengatasnamakan kelas, bukan pribadi. Saya menulis, people jiero. Siji loro atau kelas 1.2. Kami mengatur strategi dengan menempatkan teman-teman cewek di bangku terdepan. Karena waktu itu beliau masih jomblo.

sebutkan majalah yang tidak disukai istri pelaku poligami, tapi bukan mading (majalah dinding). jawabnya adalah madu (majalah kedua).

Setelah saya menulis di wall Facebook alumni, beberapa teman alumni lain menanggapi. Sepertinya mereka masih ingat sejarah. Sebagaimana Bung Karno pernah berpesan, “Jangan sekali-kali melupakan sejarah”. JAS MERAH.

Pengalaman kamu lebih gila? Tulis saja di komentar.